
Kebun binatang atau tempat pemandian air panas biasanya menjadi lokasi wisata yang diserbu pengunjung kala musim liburan. Namun bagi pelancong yang datang atau melintasi Sidoarjo, ada tempat plesiran alternatif. Yakni semburan lumpur Lapindo.
Seperti pantuan Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia pada Selasa, 19 Juli 2014. Puluhan mobil dan motor hilir-mudik ke Kecamatan Porong. Terik matahari yang menyengat ubun-ubun, pun sepertinya tidak menyurut langkah para wisatawan itu. Turis dewasa dan anak-anak tampak antusias melihat lokasi tragedi yang memenggelamkan ribuan rumah warga sekitar delapan tahun lalu itu.
Menurut penjaga pintu masuk, Asmadi (40), kebanyakan pendatang ingin melihat sendiri pusat semburan lumpur Lapindo. Dan dari tahun ke tahun, jumlah wisatawan semakin meningkat. Apalagi pada musim liburan. “Pada hari biasa saja, banyak yang datang,” kata Asmadi. “Tapi kala liburan, seperti lebaran tahun lalu, jumlah pengunjung mencapai ribuan orang.”
Seorang pengunjung yang bertemu Plasadana.com adalah Ibran (30). Wisatawan asal Jakarta itu ingin mengetahui situasi terkini di sekitar tragedi semburan lumpur Lapindo. “Jika ke Malang, saya dan keluarga biasanya melewati lokasi ini, tapi tidak pernah berhenti” ujar dia. “Ini kali pertama kami melihat langsung lumpur Lapindo.”
Asmadi mengatakan, setiap pengunjung ditarik bayaran Rp 5 ribu per motor untuk melihat pusat semburan. Meski pada satu motor ada tiga orang, tarifnya tetaplah sama. “Yang dihitung kendaraannya,” kata Asmadi.
Dengan tarif itu, wisatawan bisa melihat pusat semburan lumpur Lapindo dari jarak seratus meter. Mereka dilarang melongok terlalu dekat, karena asap dan hawa panas. Bahkan kala hujan, Asmadi dan penjaga lan melarang pengunjung menyaksikan pusat semburan lumpur. Sebab lumpur di sekitar semburan yang biasanya keras akan mencair oleh air hujan. “Jadi bisa mengancam keselamatan pengunjung.”
Pengunjung juga tak boleh merapat ke pusat semburan lumpur jika angin berhembus ke selatan. Karena asap dari pusat semburan yang berada di sisi utara mengandung racun. “Bisa-bisa pengunjung menghirupnya,” kata dia. “Kami akan membuka waktu kunjungan kala angin bertiup ke arah utara, menjauhi tempat berkumpulnya wisatawan.”
Sumber: Yahoo.com

